Rabu, 23 November 2011

INTERNET DAPAT MERUSAK OTAK

Para ilmuwan menemukan tanda-tanda atrofi materi abu-abu di otak pengguna internet berat yang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Hal ini bisa mempengaruhi konsentrasi dan memori serta kemampuan remaja untuk membuat keputusan dan tujuan.
Selain itu, hal ini juga bisa mengurangi sifat menahan diri yang akhirnya membuat remaja berperilaku ‘tak pantas’. Peneliti melakukan pindai otak magnetic resonance imaging (MRI) pada 18 mahasiswa usia 19 yang menghabiskan 8-13 jam sehari bermain game online dalam enam hari sepekan.
Setelah menjawab delapan pertanyaan mengenai apakah mereka telah mencoba berhenti menggunakan komputer dan apakah mereka membohongi keluarga mengenai jumlah waktu yang dihabiskan untuk online, mahasiswa ini diklasifikasikan sebagai pecandu internet.
Para peneliti membandingkan kelompok ini dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 18 mahasiswa yang menghabiskan kurang dari dua jam sehari untuk internet. Satu set gambar MRI fokus pada materi abu-abu di permukaan keriput otak, atau korteks, tempat pengolahan memori, emosi, ucapan, penglihatan, pendengaran dan kontrol motor terjadi.
Setelah mendapat materi abu-abu antara kedua kelompok ini, peneliti pun mulai meneliti atrofi di daerah kecil pada otak semua pecandu online ini. Hasil pindai menunjukkan, makin lama kecanduan internet berlanjut, kerusakan yang terjadi ‘lebih serius’.
Selain itu, para peneliti juga menemukan adanya perubahan dalam jaringan otak yang disebut sebagai materi putih melalui daerah dimana pesan lewat antar daerah berbeda di materi abu-abu dalam sistem saraf.
Peneliti mengatakan, “Kelainan struktural ini mungkin terkait gangguan fungsional dalam kontrol kognitif”. Selain itu, peneliti mengatakan, kelainan ini bisa membuat remaja lebih ‘mudah tergantung pada internet’.
“Hal ini merupakan konsekuensi IAD (gangguan kecanduan internet),” ujar peneliti. Hasil studi ini menunjukkan, kecanduan internet dalam jangka panjang bisa mengakibatkan perubahan struktural otak, lanjutnya.
Hasil studi yang diterbitkan di jurnal PLoS ONE ini dilakukan para ahli saraf dan ahli radiologi di universitas dan rumah sakit di China, tempat 24 juta pemuda mengalami kecanduan internet.
Dr Aric Sigman, peneliti dari Royal Society of Medicine, menggambarkan hasil studi China ini sebagai ‘jam weker’. “Cukup memalukan bahwa warga kita butuh foto otak menyusut terlebih dahulu untuk mengambil tindakan serius pada asumsi masuk akal berada di depan layar selama berjam-jam tidak baik untuk kesehatan anak”.
Profesor farmakologi Baroness Greenfield di Oxford University menggambarkan hasil studi ini sebagai ‘sangat mengejutkan’. “Hasil studi ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat jelas antara berapa lama anak-anak muda ini kecanduan internet dengan perubahan di otak mereka”.
Eksperimen dan investasi lebih banyak diperlukan untuk melakukan studi pada hal semacam ini. Sebelumnya, ahli syaraf memperingatkan adanya hubungan antara anak-anak yang memiliki rentang perhatian kurang dengan penggunaan computer serta situs jejaring sosial.
Greenfield mengaku sangat khawatir karena bukti penggunaan komputer mengubah otak anak muda tak terlalu mendapat perhatian. Ahli syaraf profesor Karl Friston di University College London mengatakan pada jurnal American Scientific, teknik yang digunakan dalam studi skala kecil ini sangat ketat. “Studi ini bertentangan intuisi. Namun Anda tak butuh sampel yang besar. Hasil menunjukkan sesuatu hal penting dengan sangat tepat,” tutupnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar